Kesalahpahaman Allah ada di setiap ciptaan. Fakta: Allah tidak tinggal di bumi atau di tempat lain di alam semesta kita. ( 1 Raja 8: 27) Memang, bintang-bintang dan ciptaan Allah lainnya ”menyatakan kemuliaan Allah”. ( Mazmur 19:1) Namun, sama seperti seorang pelukis tidak mungkin tinggal di dalam lukisannya, Allah juga tidak tinggal di SitusRatu Baka atau Candi Boko adalah situs purbakala yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Lokasi tepatnya ada di Jalan Raya Piyungan-Prambanan No 2, Gatak, Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat wisata dekat Candi Prambanan Khutbahpada siang hari ini mengambil tema “Allah Ada Tanpa Tempat”. Hadirin rahimakumullah, Seperti yang kita tahu bahwa Allah ada tanpa membutuhkan kepada tempat dan arah. Ia ada, tetapi keberadaannya tidak di atas ‘arsy, tidak di langit, tidak di atas, di bawah, di kanan, di kiri, di depan ataupun di belakang. AllahAda Tanpa Tempat Written By Anonymous on Monday, July 23, 2012 | 5:53 AM. Dewasa ini berhembus pemahaman yang mengatakan bahwa Alloh bersemayam atau bertempat di Arsy. Sementara Arsy berada di atas langit. Pemahaman ini sering di klaim sebagai pemahaman salafuna sholih, dan juga merupakan aqibah dari Imam empat yaitu Hanafi, Maliki, Syafi Ini KTR sudah saya minta kepada Kasatpol PP untuk memperkuat lagi yang ada di tempat terbuka untuk dijaga. Jadi nanti Insya Allah saya minta setiap di lapangan tempat Fasum seperti taman itu harus ada petugas Satpol PP," kata Eri, Rabu (20/7/2022). "Ikut menciptakan Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan masing-masing, TikTokvideo from Fikri (@fikri_nsk): "Allah ada tanpa tempat !!! Allah bukan di langit, Allah bukan di atas Arasy, Allah bukan berada di mana-mana, Allah bukan berada di setiap tempat #fyp". Aqidah Islam: Allah ada tanpa bertempat. original sound - Fikri. Wujuddan Sifat Allah. Tim dakwatuna 21/02/08 | 19:43 Aqidah Ada 2 komentar 82.515 Hits. Pembahasan ini merupakan pembahasan yang wajib diketahui oleh setiap muslim, sebagaimana wajibnya seorang muslim untuk mengenal Tuhannya, Allah swt. Pembahasan ini merupakan pengantar dari kajian Ilmu Tauhid (Keesaan Allah swt.). AqidahImam Syafi'i, aqidah imam asy'ari, kitab aqidah syafi i, dalil allah ada tanpa tempat dan arah, ajaran imam syafii yang dilanggar oleh pengikutnya, kitab aqidah untuk pemula, dimanakah allah berada menurut islam, syubhat allah ada tanpa tempat, imam syafi i istiwa. Imam asySyafi’i dengan nama Muhammad ibn Idris (w 204 H), adalah Penjelasanlengkap Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah dalam berbagai karya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah lintas masa dan generasi. January 2020; Hdbtigb. menjawab pertanyaan Dimanakah Allah ? Allah Ada Tanpa Arah dan Tempat. Ulama sepakat. Ini dalil nya Pertanyaan Banyak orang yang bertanya dimana Allah, bahkan ada yang menjawab dengan Allah ada dimana-mana. Ustadz, bagaimana sebenarnya hakikat Allah mengenai tempat dan arah? Bagaimana dengan hadits al-Jariyah yang menyatakan bahwa Rasul ketika ditanya dimana Allah, beliau menjawab “Fi al-Sama”? Khoirul Umam, Jombang Jawaban Imam Syafi’i رحمه الله sebagaiman termaktub dalam kitab Ithaf al-Sadati al-Muttaqin, berkata إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته “Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia Allah menciptakan tempat, sementara Dia Allah tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia Allah ada sebelum Dia Allah menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. [Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36]. إنه تعالى كان ولا مكان “Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat” Maksudnya adalah bahwa Allah telah ada tanpa permulaan, disebut azali atau qadim, dan belum ada tempat seperti Arasy, langit, bumi, dan segala makhluk lain nya. Allah ta’ala sudah sempurna dengan segala sifat-Nya yang azali sebelum ada apa pun selain-Nya. Sifat-sifat dzat Allah tidak lantas bertambah ketika Allah menciptakan makhluk-Nya; فخلق الـمكان وهو على صفة الأزل “Maka Dia Allah menciptakan tempat, sementara Dia Allah tetap atas sifat azali-Nya” Maksudnya, kemudian Allah menciptakan tempat, artinya bukan tempat Allah, tapi menciptakan makhluk-Nya. Imam Syafi’i رحمه الله berkata bahwa Allah tetap atas sifat azali-Nya, artinya sekalipun setelah ada makhluk-Nya, Allah tetap bersifat dengan sifat-sifat azali-Nya. Tidak ada sifat yang bertambah bagi Allah setelah adanya makluk-Nya. Karena sifat yang baru ada setelah adanya makhluk, itu juga termasuk makhluk. كما كان قبل خلقه الـمكان “Sebagaimana Dia Allah ada sebelum Dia Allah menciptakan tempat” Maksudnya, sebagaimana Allah ada sebelum adanya makhluk, dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Begitu juga Allah dan sifat-Nya setelah adanya makhluk, tidak dapat memberi pengaruh apa pun terhadap dzat dan sifat Allah, Allah maha sempurna jauh sebelum adanya makhluk. لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته “Tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya” Maksudnya, tidak boleh mustahil ada perubahan pada dzat dan sifat Allah. Tidak terjadi perubahan pada Allah bukan berarti itu kelemahan atau kekurangan Allah, tapi justru bila berubah, dapat menimbulkan kekurangan bagi Allah, karena Allah maha sempurna. Berubah dari sempurna tentu dapat menjadi kekurangan bagi-Nya. Setiap perubahan adalah makhluk, karena tidak ada yang dapat berubah dengan sendiri nya kecuali Allah yang menciptakan perubahan tersebut, sementara Allah adalah khaliq, bukan makhluk. Maka dengan memahami perkataan Imam Syafi’i رحمه الله di atas, dapat pula kita pahami Aqidah Imam Asy-Syafi’i رحمه الله bahwa Imam Syafi’i رحمه الله meniadakan tempat bagi dzat Allah. Allah ada tanpa arah dan tempat, inilah hakikat aqidah ulama salaf, sangat bertolak-belakang dengan aqidah kaum mujassimah yang menjisimkan Allah, dan kaum musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menduga Arasy adalah tempat persemayaman Tuhan, padahal Arasy juga makhluk-Nya, yang baru ada ketika diciptakan oleh-Nya. Lagipula sifat-sifat kesempurnaan Allah telah ada sebelum adanya Arasy dan segala makhluk lain nya. Terkait hadits riwayat Imam Muslim, tentang fi sama’, maka mesti dikembalikan pada ayat muhkamat bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, dan karena itulah Allah tidak bertempat. Jadi takwil fi sama itu adalah Allah Maha Luhur. Dalam sebuah haditnya riwayat Imam Bukhari Rasulullah bersabda كان الله ولم يكن شيء غيره “Allah ada wujud, dan tidak ada belum ada sesuatupun selainnya” Hadits lain انت الظاهر فليس فوقك شيء وانت الباطن فليس دونك شيء “Engkau dhahir, maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu, dan Engkau adalah bathin, maka tak ada sesuatu pun yang ada di bawah-Mu” Demikian pula Sayyidina Ali yang mengatakan ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته لا مكانا لذاته “Sesungguhnya Allah itu menciptakan arasy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan sebagai tempat bersemayam untuk dzat-Nya. Untuk itu, dalam memahani sebuah hadits tidak bisa hanya sekali duduk, artinya harus membandingkan dengan al-Qur’an dan hadits lain yang bisa jadi bertentangan. Atau, dalam memahami hadits, harus memahami asbabl wurud, sebab-sebab hadits tersebut dikeluarkan. Maha suci Allah dari Arah dan tempat. PENJELASAN LENGKAP ALLAH ADA TANPA TEMPAT & TANPA ARAH Dalam Berbagai Karya Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah Lintas Masa dan GenerasiPENJELASAN LENGKAP ALLAH ADA TANPA TEMPAT & TANPA ARAH Dalam Berbagai Karya Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah Lintas Masa dan GenerasiSesungguhnya ilmu mengenal Allah dan mengenal sifat-sifat-Nya adalah ilmu paling agung dan paling utama, serta paling wajib untuk didahulukan mempelajarinya atas seluruh ilmu lainnya, karena pengetahuan terhadap ilmu ini merupakan pondasi bagi keselamatan dan kebahagiaan hakiki, yang oleh karena itu ilmu Tauhid ini dikenal juga dengan nama Ilmu Ushul pondasi agama Aqidah Imam Syafi'i, aqidah imam asy'ari, kitab aqidah syafi i, dalil allah ada tanpa tempat dan arah, ajaran imam syafii yang dilanggar oleh pengikutnya, kitab aqidah untuk pemula, dimanakah allah berada menurut islam, syubhat allah ada tanpa tempat, imam syafi i istiwa Imam asySyafi’i dengan nama Muhammad ibn Idris w 204 H, adalah seorang ulama di zaman Salaf terkemuka dan juga sebagai perintis madzhab Syafi’i, berkata إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24 Artinya adalah “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Dan Allah menciptakan tempat, dan Allah Ta'ala tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Allah menciptakan tempat tanpa tempat. Dan Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” ref lihat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24. Dalam kitab karyanya Imam Syafi'i; al-Fiqh al-Akbar [selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال الفقه الأكبر، ص13 “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Allah tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, Allah ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” al-Fiqh al-Akbar, h. 13, Imam Syafi'i. Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah Thaha 5 ar-Rahman Ala al-Arsy Istawa, Imam asy-Syafi’i berkata إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات الفقه الأكبر، ص 13 “Sesungguhnya ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak - secara mendetail - membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini -dan semua orang Islam- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan bentuk dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” al-Fiqh al-Akbar, h. 13, Imam Syafi'i. Secara detail didalam kitab yang sama, bahwa Imam asy-Syafi’i telah membahas bahwa adanya batasan bentuk dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan al-hadd; bentuk adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya. Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu tersebut menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya. Kemudian dari pada itu “sesuatu” yang demikian ini, secara logika juga harus membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan batasan tersebut, dan ini jelas merupakan tanda-tanda makhluk yang nyata mustahil bagi Allah. Perlu diketahui bahwa Imam asy-Syafi’i adalah seorang Imam mujtahid yang madzhabnya tersebar di seluruh pelosok dunia, telah menetapkan dengan jelas bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka bagi siapapun yang bukan seorang mujtahid tidak selayaknya menyalahi dan menentang pendapat Imam mujtahid. Sebaliknya, seorang yang tidak mencapai derajat mujtahid ia wajib mengikuti pendapat Imam mujtahid. Jangan pernah sedikitpun anda meyakini keyakinan tasybih menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, seperti keyakinan kaum Musyabbihah, sekarang Wahhabiyyah yang menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Bahkan mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit. Na’udzu Billahi Minhum..... Khutbah I الحَمْدُ لِلÙٰهِ مُكَوِÙنِ الْأَكْوَانِ، الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا ÙˆÙَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، الْمُنَزÙَهِ عَنِ الشÙَكْلِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَرْكَانِ، وَالصÙَلَاةُ وَالسÙَلَامُ عَلَى مُحَمÙَدٍ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯Ù وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِصِدْقٍ وَإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أنْ لَا إلهَ إِلÙَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزÙَهُ عَنِ الْأَيْنِ وَالزÙَمَانِ، وَأَشْهَدُ أنÙَ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدًا رÙَسُوْلُ اللهِ الÙَذِي كَانَ ØÙÙ„ُقُهُ الْقُرْآنَ أَمÙَا بَعْدُ، عِبَادَ الرÙَحْمٰنِ، فَإنِÙÙŠ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنÙَانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ فَاØÙØ±Ù السÙَمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ Ù…Ùِنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا ÙˆÙَمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِØÙ’لِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السÙَمِيْعُ الْبَصِيْرُ الشورى ١١ Ma’asyiral Muslimin Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hadirin jama’ah salat Jum’at Khutbah pada siang hari ini mengambil tema “Allah Ada Tanpa Tempat”. Seperti yang kita tahu bahwa Allah ada tanpa membutuhkan kepada tempat dan arah. Ia ada, tetapi keberadaannya tidak di atas ‘arsy, tidak di langit, tidak di atas, di bawah, di kanan, di kiri, di depan ataupun di belakang. Ia ada tapi keberadaannya tidak dapat dibayangkan sama sekali. Ia tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan apa pun dan siapa pun serta makhluk mana pun. Karena memang Ia bukan makhluk. Ia adalah Khaliq. Hakikat-Nya tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan makhluk. Tidak ada yang mengetahui hakikat-Nya kecuali hanya Dia. Keyakinan seperti ini telah disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, salaf maupun khalaf. Salah satu yang dipropagandakan sebagian kelompok berpaham menyimpang tiap menjelang datangnya bulan Rajab hingga bulan yang mulia ini berakhir adalah tentang keberadaan Allah yang digambarkan sebagai dzat yang membutuhkan tempat. Mereka mengaku-ngaku sebagai pengikut ulama salaf padahal ulama salaf terbebas dari keyakinan mereka yang menyimpang. Kaum ini mengajarkan keyakinan bahwa Allah di atas ‘arsy. Terkadang mereka mengatakan Allah di langit. Dan terkadang mereka mengatakan Allah di atas. Mereka juga mempropagandakan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj menunjukkan bahwa Allah di atas. Mereka mengatakan, Nabi Muhammad diperintahkan naik ke atas untuk sowan menghadap kepada Allah yang berada di atas Sidratul Muntaha. Wal ‘iyadzu billah ta’ala. Sangat penting untuk disampaikan ke khalayak bahwa Allah tidak membutuhkan kepada apa pun, termasuk kepada tempat dan arah. Hal ini harus terus disampaikan secara masif kepada umat. Jika kita menganggap umat sudah tahu akan hal ini, lalu kita berhenti mensyiarkan keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat, sedangkan mereka terus-menerus tanpa henti menyampaikan bahwa Allah membutuhkan tempat, khatib khawatir ketidakbenaran yang disampaikan terus-menerus akan dianggap benar oleh publik. Ini yang sangat berbahaya. Berikutnya, ini bisa menjadi pintu masuk untuk mempropagandakan ajaran-ajaran mereka lebih lanjut, seperti pengafiran pelaku tawasul, tabarruk, pembagian tauhid menjadi tiga, dan lain-lain. Isra’ dan Mi’raj bukanlah dalil bahwa Allah di atas. Tidak ada satu pun ulama Ahlussunnah yang berpendapat demikian. Maksud dan tujuan dari Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Nabi dan memperlihatkan kepada beliau sebagian dari tanda-tanda kemahakuasaan Allah di alam atas serta untuk menerima perintah shalat di suatu tempat yang mulia di atas sana yang tidak pernah dilakukan dosa dan maksiat di dalamnya. Hadirin Wajib kita yakini bahwa Allah ada tanpa membutuhkan kepada tempat dan arah. Dalil atas keyakinan ini dari Al-Qur’an adalah surat asy-Syura ayat 11 dan ayat-ayat muhkamat lainnya yang berkaitan dengan hal itu. Allah ta’ala menegaskan لَيْسَ كَمِØÙ’لِهٖ شَيْءٌۚ الشورى ١١ Maknanya “Dia Allah tidak menyerupai segala sesuatu pun dari makhluk-Nya” QS asy-Syura 11. Lafazh ka dan mitsl secara makna sama, yakni seperti. Keduanya digabung dalam satu rangkaian untuk menguatkan makna bahwa Allah sungguh-sungguh tidak seperti segala sesuatu. Secara harfiah, ayat itu bermakna “Tidak ada yang seperti seperti Allah”. Jika yang seperti seperti Allah saja tidak ada, apalagi yang seperti Allah. Jadi ayat ini menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak serupa dengan apa pun dari semua segi. Oleh karena itu, seandainya Allah bertempat, maka ia serupa dengan makhluk-Nya yang bertempat. Ma’asyiral Muslimin Sedangkan dalil dari hadits di antaranya adalah sabda baginda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim وَأَنْتَ الظÙَاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاØÙÙ†Ù فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ رواه مسلم Maknanya “Ya Allah Engkaulah azh-Zhahir segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya tidak ada sesuatu di atas-Mu, dan Engkaulah al-Bathin Yang tidak dapat dibayangkan tidak ada sesuatu di bawah-Mu” HR Muslim Al Hafizh al Baihaqi w. 458 H mengomentari hadits ini dalam kitab al Asma’ wa ash Shifat dengan mengatakan “Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya, maka Dia ada tanpa Hadirin jamaah shalat Jum’at Ijma’ ulama Ahlussunnah wal Jama’ah juga menjadi rujukan dalam hal ini. Di antara yang mengutip ijma’ bahwa Allah ada tanpa tempat adalah Imam Abu Manshur al Baghdadi w. 429 H dalam kitab al Farq baina al Firaq. Beliau mengatakan وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنÙَهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ “Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat menyatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui Ma’asyiral Muslimin Jika kita memahami sifat 20 yang wajib ‘aqli bagi Allah, maka kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Salah satu sifat 20 bagi Allah adalah Mukhalafatuhu lil Hawadits Allah berbeda dengan seluruh makhluk. Jika seluruh makhluk-Nya menempati suatu tempat, berarti Allah yang tidak serupa dengan makhluk pasti-lah tidak menempati suatu tempat. Dia ada tanpa tempat. Begitu juga sifat Qiyamuhu bi Nafsihi Allah tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Seandainya Allah menempati ‘arsy, langit atau arah atas, maka artinya Dia membutuhkan kepada makhluk-Nya yang bernama ‘arsy, langit dan arah atas. Tentu ini mustahil. Ma’asyiral Muslimin Begitu pentingnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat, sampai-sampai hal ini juga tidak luput dari perhatian para ulama Nusantara. Tidak kurang dari Syekh Nawawi al Bantani, Kiai Shaleh Darat, Mufti Betawi Sayyid Utsman, Rais Akbar NU Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Zainul Hasan Kiai Muhammad Hasan al-Genggongi, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Sirajuddin Abbas, Syekh Ihsan Jampes, Kiai Abul Fadhol Senori Tuban, dan masih banyak lagi yang lain, mereka menegaskan secara eksplisit aqidah “Allah ada tanpa tempat” dalam karya-karya mereka. Agar khutbah ini tidak terlalu panjang, dalam kesempatan yang penuh kemuliaan ini, khatib hanya mengutip apa yang didawuhkan oleh pendiri NU, Rais Akbar NU dan Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang menyatakan dalam mukadimah kitab at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat وَأَشْهَدُ أَنْ Ù„Ùَا إِلهَ إِلÙَا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزÙَهُ عَنِ الْجِسْمِيÙَةِ وَالْجِهَةِ وَالزÙَمَانِ وَالْمَكَانِ “Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia maha suci dari berbentuk berjisim, arah, zaman dan Dari paparan khutbah di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa keyakinan “Allah ada tanpa tempat” adalah aqidah yang benar dan berlandaskan Al-Qur’an, hadits Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kesepakatan umat di berbagai belahan dunia serta didukung dan disebarluaskan oleh para ulama di bumi Indonesia. Ma’asyiral Muslimin Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنÙَهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرÙَحِيْمُ. Khutbah II اَلْحَمْدُ لِلÙٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِÙيْ وَأُسَلِÙمُ عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدٍ الْمُصْØÙŽÙÙŽÙ‰ØŒ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ Ù„Ùَا إلهَ إِلÙَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنÙَ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمÙَا بَعْدُ، فَيَا أَيÙُهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِ٠الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنÙَ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصÙَلَاةِ وَالسÙَلَامِ عَلَى نَبِيِÙهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنÙَ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلÙُونَ عَلَى النÙÙŽØ¨ÙÙŠÙÙØŒ يَا أَيÙُهَا الÙَذِينَ آمَنُوا صَلÙُوا عَلَيْهِ وَسَلِÙمُوا تَسْلِيمًا، اَللÙٰهُمÙَ صَلِ٠عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدٍ وَعَلَى آلِ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدٍ كَمَا صَلÙَيْتَ عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدٍ وَعَلَى آلِ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ مُحَمÙَدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ Ø³ÙŽÙŠÙÙØ¯ÙÙ†ÙŽØ§ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنÙَكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللÙٰهُمÙَ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنÙَا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسÙُيُوْفَ الْمُØÙ’تَلِفَةَ وَالشÙَدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَØÙŽÙ†ÙŽØŒ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا ØÙŽØ§ØµÙَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامÙَةً، إِنÙَكَ عَلَى كُلِ٠شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنÙَ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلÙَكُمْ تَذَكÙَرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ mpa/nu/ustadz nur rohmad Next Post BISNIS UPDATE GIMNI Apresiasi Pemerintah dalam Menstabilkan Harga Minyak Goreng Jum Feb 25 , 2022 Silahkan JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia GIMNI mengapresiasi pemerintah dalam menstabilkan harga minyak goreng migor di pasar domestik. Pihak GIMNI pun mendukung pemberlakukan Permendag 06/2020 dengan DPO Domestic Price Obligation. Harga migor ke konsumen, berupa curah ikat/plastic karet Rp. migor kemasan sederhana berharga Rp. […]

allah ada tanpa tempat